<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0"><channel>
<title>Review Musik</title>
<link>http://reviewmusik.com</link>
<description>Komunitas Kolumnis Musik</description><language>es-MX</language>
<lastBuildDate>01 January 1970</lastBuildDate>
<generator>RSS 2.0</generator>
	<item>
		<title> album:Orianthi - Believe (2009) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=39</link>
		<author>reviewmusik</author>
		<pubDate>09 March 2010</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Gitaris cewek dengan skill ngegitar tinggi bukanlah hal yang langka. Menjadi langka kalau gitaris itu sudah dipercaya mengiringi &lt;strong&gt;Steve Vai&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Carlos Santana&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;Michael Jackson&lt;/strong&gt;. Hal inilah yang dimiliki oleh &lt;strong&gt;Orianthi&lt;/strong&gt;, cewek kelahiran Australia, 22 Januari 1985. Album &quot;&lt;em&gt;Believe&lt;/em&gt;&quot;, memiliki potensi pendengar dari berbagai kalangan: penggemar pop, rock, atau bisa saja menarik perhatian fans Steve Vai (berhubung ada 1 lagu dimana Vai ikut bermain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;&lt;strong&gt;According To You&lt;/strong&gt;&quot; membuka album ini dengan meyakinkan, riff catchy dengan beat yang menghentak segera membuat lagu ini akrab di telinga. Melody gitar dengan nuansa rock yang kental menyisip di beberapa bagian dengan pas, solo gitar Orianthi yang begitu furious untuk genre pop rock jelas menarik perhatian tersendiri. Vokal Orianthi sendiri tidaklah jelek, walaupun saya membayangkan akan lebih baik jika karakter vokalnya dapat segalak permainan gitarnya, apalagi liriknya sudah mendukung buat mengeluarkan emosi: &quot;&lt;em&gt;According to you, I`m stupid, I`m useless, I can`t do anything right&lt;/em&gt;&quot;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, &quot;&lt;strong&gt;Suffocated&lt;/strong&gt;&quot; menunjukkan range vokal Orianthi yang mampu bernyanyi rendah maupun mendaki nada tinggi. bernuansa rock alternatif dengan aransemen yang cukup kompleks tetapi tetap rapi. Lagu ini memang sedikit berbeda dengan gaya keseluruhan album, mungkin karena merupakan cover version dari Sound the Alarm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagu selanjutnya memiliki beberapa ciri khas, yaitu easy listening, diselingi melodi-melodi gitar yang nge-rock, tetapi sayang jatah solo gitarnya rata-rata singkat. Istimewanya, Orianthi menawarkan berbagai nuansa di album ini, dari rock `n roll, blues, ballad, sampai alternative rock. Walaupun secara keseluruhan saya pribadi mengkategorikannya sebagai pop rock, sedikit banyak karena vokal Orianthi yang memang menjurus nge-pop dan struktur lagu yang dibuat sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat penggemar Vai, jangan lupa menyimak track instrumental &quot;&lt;strong&gt;Highly Strung&lt;/strong&gt;&quot;, dimana Orianthi berduet dengan sang maestro Steve Vai. Nuansa musiknya jelas berciri Steve Vai, yang jelas Orianthi mampu mengimbangi Vai (Walaupun lagu ini termasuk sederhana untuk kelas Steve Vai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, album ini tidak memforsir skill dan teknik gitar yang luar biasa, tetapi sebuah album dengan lagu-lagu simple yang tidak perlu didengar dengan kening berkerut (kecuali &quot;Highly Strung&quot; yang perlu sedikit perenungan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Highlight: According To You, Suffocated, Highly Strung, Drive Away. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Gamma Ray - To The Metal (2010) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=38</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>01 March 2010</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;float: left; border: 3px solid black; margin: 10px;&quot; src=&quot;img_album/to_the_metal.jpg&quot; alt=&quot;To The Metal&quot; width=&quot;150&quot; height=&quot;150&quot; /&gt;Biarpun Gamma Ray sering dianggap berada dibawah bayang-bayang Helloween, tapi tidak berlaku untuk vokalis/gitar sekaligus pendiri Gamma Ray: &lt;strong&gt;Kai Hansen&lt;/strong&gt;, dewa-nya power metal. Ibarat Dave Mustaine di dunia thrash metal, Kurt Cobain di dunia grunge, atau Jean Claude Van Damme dengan 360 derajat split kicknya (hmmm yang terakhir sepertinya kurang nyambung).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&quot;&lt;em&gt;Everything that Kai Hansen touches will turn into gold!&lt;/em&gt;&quot; begitu kira-kira penggemar power metal mendeskripsikan sosok Kai Hansen. Tidak berlebihan, kalau dilihat dari sederet lagu ciptaannya yang melegenda seperti &lt;em&gt;Ride The Sky&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Victim of Fate&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Halloween&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;I Want Out&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; Future World&lt;/em&gt; (era Kai saat di Helloween), lalu era Gamma Ray (1990 sampai saat ini): dengarkan kedahsyatan &lt;em&gt;Lust for Life&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;The Silence&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Land of the Free&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Valley of the Kings&lt;/em&gt;, dan masih banyak lagi. Belum kontribusinya sebagai vokalis/gitaris di satu atau beberapa lagu dari Avantasia, Angra, Iron Savior, Blind Guardian, atau Heavenly. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Intermezzo: menurut http://www.googlefight.com, pertempuran &quot;Kai Hansen&quot; vs &quot;Michael Weikath&quot; (pentolan Helloween) memperlihatkan, tendangan Kai berhasil membuat Weiki terpental dengan score telak seperti pada gambar dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src=&quot;img_album/googlefight_kai_vs_weiki.jpg&quot; alt=&quot;Kai Hansen vs Michael Weikath&quot; width=&quot;367&quot; height=&quot;405&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album &quot;&lt;strong&gt;To The Metal&lt;/strong&gt;&quot; merupakan album studio Gamma Ray yang ke 10, dirilis pada 29 Januari 2010. Dari judulnya saja, sudah menggambarkan bahwa Gamma Ray tetap konsisten di jalur power metal. Sejak awal mula didirikan, mendengarkan Gamma Ray berarti mendengarkan kolaborasi double gitar yang dinamis, permainan bass yang lincah (terutama sejak Dirk Schlachter memutuskan pindah dari posisi gitaris menjadi bassis), gempuran drum sarat energi, dan tentu saja vokal yang mampu melengking tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu &quot;Rise&quot; merupakan track yang megah dan melodik khas Gamma Ray, powernya tidak kalah dengan band power metal yang lebih muda. Dilanjutkan dengan &quot;Deadlands&quot; yang menurut saya bahkan bernuansa lebih liar dan galak dibandingkan &quot;Rise&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo mulai diturunkan pada lagu &quot;Mother Angel&quot;, harmoni duet solo gitar yang indah dengan teknik tapping dipamerkan Kai/Henjo dengan iringan latar keyboard pada bagian tengah lagu. Berikutnya &quot;No Need To Cry&quot; adalah sebuah ballad (Gamma Ray memiliki keahlian tersendiri dalam meramu lagu ballad). Pada lagu ini, reff. yang melodius tidak akan mudah hilang dari ingatan, bahkan solo gitarnya walaupun sekilas terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat menyentuh dan indah, jadi ingat James Hetfield dari Metallica (salah satu master solo gitar yang simple tapi keren). Tidak ketinggalan, Dirk Schlachter sebagai penciptanya ikutan menyumbangkan vokal, walaupun lead vokal tetap dinyanyikan Kai Hansen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Empathy&quot;, sebuah lagu dengan komposisi padat dan multi-layered, sekali lagi menunjukkan solo gitar bermutu tinggi tanpa perlu teknik rumit, hanya perlu timing dan nada yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;To The Metal&quot; tampaknya lagu yang diciptakan khusus untuk sing along, kabarnya telah dibawakan pada konser-konser Gamma Ray bahkan sebelum album ini dirilis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;All You Need To Know&quot; menampilkan bintang tamu istimewa: &lt;a href=&quot;4-artikel-10-Vokalis-Metal-Terbaik-versi-saya-lagi.htm&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Michael Kiske&lt;/a&gt;! Berduet dengan Kai Hansen, walaupun terdengar sedikit janggal karena bagian vokal Kai begitu sangar, tetapi bagian Kiske begitu mendayu-dayu dan hanya mengambil porsi di bagian reff. saja. Tetapi tetap merupakan sebuah lagu yang dahsyat, walaupun sebenarnya ekspektasi saya jauh lebih besar karena masih terngiang dahsyatnya vokal Kiske di ending lagu &quot;Land of the Free&quot; (1995) yang tidak pernah bisa ditiru Kai Hansen dengan sempurna pada saat konser. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff. &quot;Time To Live&quot; dijamin membuat kepala para headbanger bergoyang, arpeggio cepat dan akurat terdengar sangat nikmat pada bagian solo gitar (by Henjo Richter?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Shine Forever&quot; juga merupakan salah satu highlight di album ini. Menonjolkan permainan bass agresif dari Dirk Schlachter, dengan chorus megah, dan tentu saja, sangat power metal! Dilanjutkan dengan &quot;Chasing Shadows&quot; yang semakin mengukuhkan Gamma Ray sebagai biangnya power metal bermutu tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, album ini bukanlah album terbaik Gamma Ray, tetapi tetap merupakan karya emas yang solid. Beberapa kabar memberitakan Gamma Ray kemungkinan akan konser di Indonesia pada bulan april 2010, entah apakah benar karena pada jadwal &quot;To The Metal - Tour 2010&quot; di website resmi Gamma Ray sendiri belum mengkonfirmasikan hal ini. Kita nantikan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Track List:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;01. Rise&lt;br /&gt;02. Deadlands&lt;br /&gt;03. Mother Angel&lt;br /&gt;04. No Need To Cry&lt;br /&gt;05. Empathy&lt;br /&gt;06. To The Metal&lt;br /&gt;07. All You Need To Know&lt;br /&gt;08. Time To Live&lt;br /&gt;09. Shine Forever&lt;br /&gt;10. Chasing Shadows&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Members:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;* Kai Hansen - Guitars, Vocals &lt;br /&gt;* Henjo Richter - Guitars, Keyboards &lt;br /&gt;* Dirk Schl&amp;auml;chter - Bass, Vocals on &quot;No Need To Cry&quot; &lt;br /&gt;* Dan Zimmerman - Drums &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guest:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;* Michael Kiske - Vocals on &quot;All You Need To Know&quot;&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> news: - Wuthering Heights Bakal Menggebrak Dengan Salt  </title>
		<link>http://reviewmusik.com/news_detail.php?id=13</link>
		<author></author>
		<pubDate>22 February 2010</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Setelah absen selama 4 tahun, band asal Denmark &quot;&lt;strong&gt;Wuthering Heights&lt;/strong&gt;&quot;, kembali akan menghadirkan album teranyar berjudul &quot;&lt;strong&gt;Salt&lt;/strong&gt;&quot; pada 24 Maret 2010, tersedia di wilayah Japan/Asia melalui perusahaan recording Marquee/Avalon. Sementara untuk wilayah Europe/North America, baru akan available pada bulan April 2010.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekilas bagi yang belum pernah mengenal Wuthering Heights, sejak album studio pertama mereka (&quot;&lt;strong&gt;Within&lt;/strong&gt;&quot;) pada tahun 1999, Wuthering Heights konsisten dengan jenis musik yang kental dengan nuansa power/progressive metal dan unsur folk. Ramuan musiknya sangat unik dan bermutu tinggi dengan permainan tempo yang tidak mudah diduga. Kita tunggu saja, apakah ada yang berminat me-review band satu ini di reviewmusik.com.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;website Wuthering Heights: &lt;a title=&quot;Wuthering Heights&quot; href=&quot;http://www.wuthering-heights.dk/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;http://www.wuthering-heights.dk/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;http://reviewmusik.com/images/wuthering-heights-salt.jpg&quot; alt=&quot;Wuthering Heights - Salt&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;br /&gt; 01. Away!&lt;br /&gt; 02. The Desperate Poet&lt;br /&gt; 03. The Mad Sailor&lt;br /&gt; 04. The Last Tribe (Mother Earth)&lt;br /&gt; 05. Tears&lt;br /&gt; 06. Weather The Storm&lt;br /&gt; 07. The Field&lt;br /&gt; 08. Water Of Life&lt;br /&gt; 09. Lost At Sea&lt;br /&gt; 10. Sympathy (exclusive Japan bonus track) 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Music &amp;amp; Lyrics by Erik Ravn&lt;br /&gt; except &quot;Sympathy&quot; by Ken Hensley / Uriah Heep       	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Line-up:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Erik Ravn : guitars, keyboards, bass, mandolin, percussion, backing vocals, narration&lt;br /&gt; Nils Patrik Johansson : all lead vocals, backing vocals&lt;br /&gt; Morten Gade S&amp;oslash;rensen : drums, percussion&lt;br /&gt; Andreas Lindahl : keyboards&lt;br /&gt; Martin Arendal : guitars&lt;br /&gt; Teddy &quot;Dr.M&amp;uuml;ller&quot; M&amp;ouml;ller : bass, guitars, backing vocals       	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Guest musicians:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Tommy Hansen - hammond organ, accordion&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Heavenly - Carpe Diem (2009) Blow you up to heaven!</title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=37</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>24 December 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Entah apakah nama Heavenly cukup dikenal di dunia musik hingar bingar, tapi sepertinya band satu ini tidak se-ngetop band sebangsa-nya seperti Helloween, Gamma Ray, Angra, Edguy, Dragonforce, Stratovarius, atau Sonata Arctica. Setidaknya, kalau dilihat dari rank alexa (alexa.com) masing-masing official website, urutannya saat saya menulis ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonata Arctica (sonataarctica.info) - 187,229&lt;br /&gt;Helloween (helloween.org) - 240,789&lt;br /&gt;Dragonforce (dragonforce.com) - 280,627&lt;br /&gt;Stratovarius (stratovarius.com) - 398,256&lt;br /&gt;Edguy (edguy.net) - 692,219&lt;br /&gt;Gamma Ray (gammaray.org) - 759,087&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heavenly (heavenly.fr) - 1,587,113&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka di samping kanan adalah peringkat website tersebut menurut alexa.com, semakin kecil semakin baik (google.com adalah peringkat 1, facebook.com adalah peringkat 2, dan seterusnya). Peringkat ini selalu di-update.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, menurut alexa.com, saat ini peringkat website Heavenly adalah yang paling jarang disamperin orang, dibanding band power metal yang disebutkan tadi. Padahal, dilihat dari kemampuan musisi dan kedahsyatan lagu-lagunya, Heavenly sanggup bersaing ketat atau bahkan dari beberapa hal, mampu melewati semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang membuat Heavenly kurang populer, mungkin adalah nama band + asal negaranya (Perancis, rasanya tidak banyak band power metal dari sana yang mendunia). Coba kalau nama bandnya Sotto Perancis (berhubung vokalisnya Benjamin Sotto), mungkin puluhan juta rakyat Indonesia langsung penasaran, apakah bisa menandingi rasa soto madura atau soto banjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, cukup intronya (oh rupanya tadi baru intro), album terbaru Heavenly di penghujung 2009 ini berjudul &quot;Carpe Diem&quot;, album kelima Heavenly dan menampilkan cover yang luar biasa norak, tapi no problem karena seksi habis. Ini adalah album happy happy Heavenly, riff bernuansa gelap berkurang, tidak seperti album &quot;Dust to Dust&quot; atau &quot;Virus&quot;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Track pembuka &quot;Carpe Diem&quot;, tetap menampilkan riff yang ribet bin keriting plus struktur lagu yang kompleks, biarpun chorusnya tetap melodik, dan riang gembira, Heavenly-mania tidak akan asing dengan resep ini. Porsi solo gitar dieksekusi dengan brilian oleh duet Charley Corbiaux dan Olivier Lapauze. Duo ini cukup kompak, melodi solo gitar yang keren dan memorable banyak terdengar di keseluruhan album ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Track selanjutnya &quot;Lost In Your Eyes&quot;, standard mid tempo power metal, sebenarnya tidak terlalu istimewa untuk ukuran Heavenly, tapi tetap asyik. Nah, yang menakjubkan adalah track ke-3: &quot;Farewell&quot; sebuah ballad yang megah. Nuansa Queen sangat kental, sebenarnya sih sudah dari dulu Heavenly ber-Queen ria dengan harmonisasi vokal dan chorus-chorus megah, tetapi kali ini semakin kental dengan dentingan piano dan belokan nadanya, bahkan style solo gitarnya juga kok mirip-mirip Brian May :o &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, vokal Benjamin Sotto yang semakin piawai melentingkan not demi not, tinggi maupun rendah, berakrobatik tanpa kesulitan. Saya berani mensejajarkan &quot;Farewell&quot; dengan &quot;The Silence&quot; dari Gamma Ray. Hanya saja, lagu-lagu seperti ini bukan jenis lagu yang sekali dengar bakal suka, it`s growing, gitu bahasa bule-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau power metal yang straight-forward, wajib menyimak &quot;Fullmoon&quot; yang menghentak full semangat `45. Seharusnya ini bisa jadi lagu wajib Heavenly, karena jarang Heavenly membuat lagu yang simple tapi to the point merasuki jiwa yang menggelora dan haus kebebasan (ngomong apa sih). Kurang lebih, Heavenly seharusnya punya lagu wajib + ngetop seperti layaknya Helloween dengan &quot;I Want Out&quot; atau... &quot;Windmill&quot; (buktinya, banyak yang teriak-teriak &quot;Windmill&quot; waktu Helloween konser di Jakarta, walaupun dicuekin Andi Deris dkk). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;A Better Me&quot;, semi-ballad yang kembali memamerkan range dan teknik vokal aduhai Benjamin Sotto, bagaikan Freddie Mercury yang hidup lagi (tapi nyasar jadi musisi metal). Dengarkan bagaimana ia &quot;bercanda&quot; dengan nada-nada sulit. Sampai track ke-5 ini semua lagu layak dapat 5 jempol (minjem dari siapa aja tuh jempol). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ashen Paradise&quot; merupakan lagu power metal khas Heavenly, menonjolkan solo gitar maut, di tengah lagu Heavenly menyisipkan bagian lagu yang mirip-mirip dengan &quot;Painkiller&quot;-nya Judas Priest, entah cuma kebetulan mirip atau kesengajaan, tapi lumayan.... bikin bingung :|&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The Face Of Truth&quot; tumben-tumbennya menampilkan derap bass ala Iron Maiden, juga ada warna-warna Gamma Ray disini. Tetapi keseluruhan tetap khas Heavenly (apalagi kalau sudah dengar bunyi lonceng yang sering terdengar di lagu-lagu Heavenly, jangan-jangan ada satu musisi khusus yang tugasnya mainin lonceng?), ini juga salah satu lagu yang bersinar di album ini. Selanjutnya, &quot;Ode To Joy&quot; adalah 9th Symphony/Song of Joy-nya Beethoven versi Heavenly, yang diacak-acak jadi metal gaya Heavenly, yah... semoga tidak membuat Beethoven bangkit penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu terakhir &quot;Save Our Souls&quot;, walaupun bukan lagu yang jelek, tetapi merupakan antiklimaks album yang pantas disebut masterpiece ini. Sayangnya lagi, hanya 9 lagu yang ditawarkan Heavenly dengan durasi rata-rata lagu sekitar 5 menit, tetapi tidak mengubah penilaian saya, bahwa &quot;Carpe Diem&quot; adalah album terbaik Heavenly sampai saat ini, dan seharusnya juga semakin membuktikan bahwa Ben Sotto adalah salah satu vokalis terbaik blantika metal dunia (paling tidak menurut salah satu penulis di reviewmusik.com!).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Track Listing:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Carpe Diem&lt;br /&gt;2. Lost In Your Eyes&lt;br /&gt;3. Farewell&lt;br /&gt;4. FullMoon&lt;br /&gt;5. A Better Me&lt;br /&gt;6. Ashen Paradise&lt;br /&gt;7. The Face Of Truth&lt;br /&gt;8. Ode To Joy&lt;br /&gt;9. Save Our Souls&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;Musicians:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Benjamin Sotto - vocals&lt;br /&gt;Charley Corbiaux - guitar&lt;br /&gt;Matthieu Plana - bass&lt;br /&gt;Olivier Lapauze - guitar&lt;br /&gt;Thomas Das Neves - drums&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;(JN)&lt;br /&gt;http://reviewmusik.com/37-album-Heavenly-Carpe-Diem.htm&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Bon Jovi - The Circle (2009) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=36</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>04 November 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Band rock yang satu ini memang layak punya nama besar. Setiap gebrakannya selalu ditunggu, tetapi sukar mengharapkan kejutan dari Bon Jovi. Walaupun untuk band sekelas Bon Jovi, sesuatu yang baru bukanlah keharusan, cukup mempertahankan &quot;cita rasa &quot; yang sudah melekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&quot;The Circle&quot; &lt;/strong&gt;merupakan album studio Bon Jovi ke-11 setelah berkiprah sekitar 26 tahun, mereka telah mengukir lagu-lagu big hit seperti &lt;em&gt;Runaway&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Livin` On A Prayer&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Always, It`s My Life&lt;/em&gt;, dan seterusnya. Bagi yang telaten mengikuti musik Bon Jovi, mungkin merasakan pergeseran musik mereka menjadi lebih ringan, sebagian fans mungkin menyukainya, tapi sebagian lagi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas dengan album ini, Bon Jovi semakin mengukuhkan bahwa: Bon Jovi &lt;em&gt;won`t back to 80`s! &lt;/em&gt;Jadi jangan harapkan hadirnya semangat Bon Jovi di tahun 80-an: teriakan serak Jon Bon Jovi, ritem gahar Richie Sambora, lagu-lagu melodik tapi tetap metal atau istilah bekennya: &lt;em&gt;glam rock/metal&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;dance metal&lt;/em&gt;, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, masih ada lagu-lagu yang cukup segar seperti single &lt;em&gt;We Weren`t Born to Follow&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Work for the Working Man&lt;/em&gt; yang dentuman bassnya mengingatkan saya pada lagu &lt;em&gt;Keep The Faith&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Detik pertama &lt;em&gt;Bullet&lt;/em&gt; memiliki intro mirip &lt;em&gt;It`s My Life&lt;/em&gt;, dan lagu ini memang tidak jelek, dilanjutkan dengan &quot;&lt;em&gt;Thorn In My Side&lt;/em&gt;&quot; yang asyik. Tapi banyak juga lagu yang menurut saya hanya sekedar menuh-menuhin album (filler), untungnya ditutup dengan ballad yang touching: &quot;&lt;em&gt;Learn to Love&lt;/em&gt;&quot;.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bon Jovi saat ini adalah: Jon Bon Jovi pada vokal yang selalu hati-hati meniti nada tinggi dan kebanyakan lebih memilih range vokal yang aman, Richie Sambora pada gitar yang memainkan ritem dengan monoton dan sedikit solo gitar, juga sebenarnya tidak perlu nama besar Tico Torres (drum), David Bryan (keyboards), Hugh McDonald (bass) untuk memainkan level musik mereka saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, dari segi musikalitas, Bon Jovi nyaris tidak berbeda dengan... katakanlah Chris Daughtry atau David Cook (keduanya alumni American Idol yang meraih sukses komersial). Ya, mereka adalah vokalis bertalenta yang dapat menyanyikan lagu pop-rock yang mudah diterima telinga, tetapi bukan tipe lagu yang mengundang pertanyaan &quot;wow.. siapa nih yang main gitar?&quot;, contohnya. But it`s a circle (lingkaran setan?), mungkin sulit bagi Bon Jovi untuk keluar menampilkan kembali ciri rock yang menghentak-hentak, dan mungkin sedikit juga yang perduli.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tapi buat saya, menikmati lagu lawas seperti &quot;Wild is the Wind&quot; atau &quot;Burning For Love&quot; jauh lebih nikmat dibandingkan mendengarkan lagu-lagu dalam album The Circle. Biarpun demikian, tetap saja rasanya wajib menyimak setiap album Bon Jovi. Kok bisa gitu ya? &lt;img title=&quot;{#emotions_dlg.straight_face}&quot; src=&quot;tinymce/jscripts/tiny_mce/plugins/emotions/img/straight_face.gif&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;{#emotions_dlg.straight_face}&quot; /&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Track Listing:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;01. We Weren`t Born to Follow&lt;br /&gt;02. When We Were Beautiful&lt;br /&gt;03. Work for the Working Man&lt;br /&gt;04. Superman Tonight&lt;br /&gt;05. Bullet&lt;br /&gt;06. Thorn In My Side&lt;br /&gt;07. Live Before You Die&lt;br /&gt;08. Brokenpromiseland&lt;br /&gt;09. Love`s the Only Rule&lt;br /&gt;10. Fast Cars&lt;br /&gt;11. Happy Now&lt;br /&gt;12. Learn to Love&amp;nbsp;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Personil:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jon Bon Jovi - vocals&lt;br /&gt;Richie Sambora - guitars&lt;br /&gt;Tico Torres - drums&lt;br /&gt;David Bryan - keyboards&lt;br /&gt;Hugh McDonald - bass&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Megadeth - Endgame (2009) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=35</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>10 September 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Apa yang terbayang saat mendengar kata &quot;&lt;strong&gt;MEGADETH&lt;/strong&gt;&quot;? Kalau jawabannya adalah salah satu dari: musik yang rumit, suara vokal yang tiada duanya, tukang gonta-ganti gitaris, atau orang yang pernah menghajar James Hetfield, maka tidak salah lagi, Megadeth yang Anda maksud adalah salah satu dari THE BIG FOUR pionir dunia thrash metal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sering gonta-ganti personil, formasi Megadeth yang sering dianggap paling &quot;mengerikan&quot; adalah formasi Dave Mustaine (vokal/gitar), Marty Friedman (gitar), Dave Ellefson (bass), dan Nick Menza (drums), formasi ini pernah melahirkan album keramat berjudul &quot;Rust In Peace&quot; (1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, formasi tersebut tinggal kenangan, gantinya adalah Chris Broderick (gitar), James Lomenzo (bass), Shawn Drover (drums), dan tentunya Dave Mustaine (vokal/gitar). Chris Broderick yang ex. Jag Panzer merupakan gitaris dengan skill tinggi, disebut Mustaine sebagai gitaris terhebat yang pernah dimiliki Megadeth (komentar yang mungkin membuat Marty Friedman di Jepang sana bermuram durja). James Lomenzo sudah lama dikenal sebagai bassist... WHITE LION! Yah, tidak perlu protes, setidaknya &quot;&amp;Agrave; Tout Le Monde&quot;&quot; tidak lebih galak dibanding &quot;You`re All I Need&quot;-nya White Lion, tapi percayalah, Dave Mustaine tidak sedang mabuk saat merekrut James Lomenzo. Shawn Drover? Dia adalah drummer unik dengan gaya open handed drumming, menggebuk snare drum dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formasi ini, menelurkan album anyar bertajuk &quot;Endgame&quot;, yang jelas bukan berarti Mega-end alias akhir dari Megadeth, karena power dan energi album ini tidak berbeda dengan Megadeth 1-2 dekade silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu pembuka berjudul &quot;Dialectic Chaos&quot; merupakan sebuah track intrumental, yang memang cukup lazim dalam genre heavy metal. Tetapi dalam sejarah Megadeth, hal ini jarang-jarang dilakukan. Tercatat track instrumental sebagai pembuka hanya terdapat pada album &quot;So Far So Good... So What!&quot; (1988) dengan &quot;Into The Lungs Of Hell&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dialectic Chaos&quot; sarat dengan solo gitar brutal dari Mustaine dan Broderick, bagi yang mengenal style solo gitar Mustaine sebagai satu-satunya personil tetap Megadeth dari awal mula, tidak sulit membedakan porsi solo Mustaine dan porsi Broderick. Solo Broderick yang sesekali menggunakan teknik sweep picking dan arpeggio memberi warna baru pada musik Megadeth (walaupun Marty Friedman juga biangnya solo sweep picking + arpeggio, tetapi tidak diforsir sebanyak ini di Megadeth).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tedeng aling-aling, pada lagu kedua Dave Mustaine langsung &quot;menggerutu&quot; diiringi dengan hamburan riff gitar yang rumit dan melodi gitar yang mencuri-curi, full speed dan powerful. Telinga awam akan mengatakan ini lagu hancur-hancuran yang dimainkan saat mabuk, tetapi telinga Megadeth-mania paham benar lagu seperti ini hanya dapat diciptakan dan dimainkan oleh musisi-musisi jenius sekaliber Mustaine dkk. Kalau dibandingkan dari sisi kompleksitas, sang rival abadi Metallica pun belum dapat menandingi Megadeth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu selanjutnya, &quot;44 Minutes&quot; menurunkan tempo permainan, lagu ini menampilkan chorus yang catchy, sekilas merupakan komposisi sederhana (untuk kelas Megadeth), tetapi kalau didengar sampai ke bagian solo gitar, maka kesan yang didapat adalah Mustaine/Broderick = pasangan baru duo gitaris papan atas dunia! Dan mungkin kuping Marty Friedman akan panas mendengar permainan cepat dan rumit Broderick di akhir lagu yang sedikit nge-Cacophony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu menarik lainnya adalah &quot;Bodies&quot;, yang merupakan track yang memuat &quot;signature&quot; khas Megadeth: dentuman bass-line yang gagah dibalik riff patah-patah (bukan goyang patah-patah lho!), dan chorus yang friendly di telinga fans Megadeth. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The Hardest Part of Letting Go... Sealed With A Kiss&quot; mungkin merupakan lagu yang paling mudah diingat (lagunya, bukan judulnya). Lagu yang ballad tapi metal dan metal tapi ballad, tergantung dengarnya pas bagian mana. Sekaligus menunjukkan bahwa Dave Mustaine juga bisa bernyanyi dengan &quot;normal&quot; (ini juga tergantung dengarnya pas bagian mana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, album ini enerjik, agresif, bermutu tinggi, walaupun belum sanggup menandingi &quot;Rust In Peace&quot;. Riff ruwet memang banyak, tetapi riff seunik &quot;Holy Wars...The Punishment Due&quot; mungkin hanya tercipta sekali dalam seratus tahun, solo gitar maut juga banyak, tetapi kehilangan eksotika seorang Marty Friedman. Tetapi yang jelas, mendengarkan &quot;Endgame&quot; tetap mengundang decak kagum tak berkesudahan. Mungkin saja, beberapa lagu dalam album ini akan menjadi favorit Anda.&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Stryper - Murder By Pride (2009) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=34</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>25 August 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Tahun 1980-an adalah masa kejayaan heavy metal/hard rock, gampangnya adalah masa lagu &quot;The Final Countdown&quot; mengumandang di hampir semua stasiun radio, masa gitaris-gitaris muda mencoba bermain &quot;Sweet Child `O Mine&quot;, masa Jon Bon Jovi membuat histeris cewek-cewek dengan senyum dibalik big hair-nya, di mana Stryper saat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dikenal sebagai pengusung musik metal dengan pesan-pesan bernafaskan kristiani, Stryper ada di banyak hati penggemar rock 80-an apapun agama dan kepercayaannya, sebagian orang terbuai dengan lagu manis &lt;strong&gt;&quot;Honestly&quot;&lt;/strong&gt;, sebagian lagi ternganga dengan keganasan lagu &lt;strong&gt;&quot;To Hell With The Devil&quot;&lt;/strong&gt;. By the way, saya ada di kelompok yang kedua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, beberapa grup tempo dulu berusaha menggapai kembali masa emasnya, tetapi dengan bertambahnya waktu 20-an tahun, apakah mereka masih sama seperti dulu? (dengan catatan kita tidak membicarakan Yngwie Malmsteen, if you know what I mean!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album &quot;Murder By Pride&quot; dari Stryper, adalah gabungan Stryper masa lalu dan masa kini, mereka mempertahankan musik yang catchy, duo gitar yang asyik, dan lengkingan vokalis Michael Sweet yang masih saja sanggup meniti nada tinggi, walaupun mungkin sekarang, lebih berhati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu pembuka &lt;strong&gt;&quot;Eclipse of the Son&quot;&lt;/strong&gt; sangat old-Stryper dan merupakan permulaan yang menjanjikan. Riff gitar yang lincah, harmony vokal yang indah, dan permainan bass yang ciamik oleh Tracy Ferrie (bahkan buat saya, lebih baik dibandingkan permainan Timothy Gaines). Musik Stryper memang membuka banyak peluang untuk improvisasi pada sektor bass, dan Tracy memanfaatkannya dengan baik, terdengar di seluruh lagu pada album ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi drums diisi oleh Kenny Aronoff, mungkin permainannya tidak seunik Robert Sweet, tetapi untunglah Kenny mampu menghadirkan permainan yang atraktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu kedua, &lt;strong&gt;&quot;4 Leaf Clover&quot;&lt;/strong&gt; memiliki riff intro yang tetap old-style Stryper, tetapi menginjak refrain, yang ditampilkan adalah ritem gaya baru yang nge-punk/alternative (You name it! Pokoknya bukan ini Stryper tahun 80-an). Tetapi resep ini membawa lagu &quot;4 Leaf Clover&quot; saya nobatkan menjadi lagu kedua terbaik di album ini, 30% karena lengkingan Michael Sweet setelah solo gitar, yang walaupun singkat, tapi momentnya sangat pas sehingga menjadi bagian yang paling memorable di lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&quot;Peace of Mind&quot; &lt;/strong&gt;merupakan cover version dari kelompok Boston (di mana Michael Sweet juga merupakan vokalis di band ini), lagu yang enak di telinga dan salah satu lagu andalan di album ini. &lt;strong&gt;&quot;Alive&quot; &lt;/strong&gt;merupakan lagu ballad yang memamerkan keindahan vokal Michael Sweet, teknik falsetto dan vibrato-nya di lagu ini, jarang-jarang ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang wajib di highlight adalah&lt;strong&gt; &quot;Murder By Pride&quot;&lt;/strong&gt;, yang buat saya merupakan lagu terbaik di album ini. Lagu yang menggoda sejak gebrakan pertama, khas Stryper dengan melodi yang rancak, ritem pendek-pendek mengiringi vokal lantang Michael Sweet, dan refrain yang sangat ear-catching. Sederhana, tetapi tidak mudah untuk dibuat seindah ini. Salah satunya dengan memperhatikan refrain, walaupun refrainnya kuat, Stryper tidak terjebak untuk mengulangnya terus-menerus dengan persis sama, ada improvisasi nada yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh lagu di album ini dapat dinikmati bagi fans lama Stryper, bagi yang belum mengenal Stryper, nikmatilah dan Anda tidak akan menyangka album dengan kemampuan musikalitas tinggi, energik dan powerful ini diusung oleh band yang sudah berumur 25 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;score: 4/5&lt;br /&gt;http://www.reviewmusik.com&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> article: - In Memoriam of Midnight  </title>
		<link>http://reviewmusik.com/artikel_detail.php?id=14</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>19 July 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Salah satu lagu yang tidak pernah saya lupakan di masa kecil adalah &quot;Azrael&quot; dari kelompok &lt;strong&gt;Crimson Glory&lt;/strong&gt;. Salah satu lagu heavymetal terbaik untuk selera telinga saya. Awalnya saya hanya mendengar lagu tersebut dari radio, melodinya yang unik sangat menggugah semangat, apalagi ditambah dengan lengkingan vokal Midnight yang tajam dan sangat emosional (&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=JVFLFQ1b95A&quot;&gt;http://www.youtube.com/watch?v=JVFLFQ1b95A&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang vokalis itu kini telah tiada. Tepatnya pada tanggal 8 Juli 2009 karena kondisi gagal ginjal dan hati dalam usia 47 tahun. Tentu saja beritanya tidak seheboh berita duka Michael Jackson, tetapi bagi yang mengenal Crimson Glory, nama Midnight sangat sukar dilupakan, vokalnya memiliki keunikan tersendiri, dan sering dibandingkan dengan vokalis-vokalis legendaris seperti Rob Halford, Robert Plant, sampai Geoff Tate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Midnight pertama kali dikenal bersama bandnya, Crimson Glory yang berasal dari Florida, Amerika Serikat. Pada tahun 1986 mereka merilis debut album &quot;Crimson Glory&quot;, yang mengusung musik heavy metal yang unik, permainan melodi yang khas dari gitaris Jon Drenning, vokal Midnight yang powerful, musik yang kompleks, membuat mereka dapat disejajarkan dengan kehebatan Queensryche. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1988 adalah masa emas mereka, kalau Queensryche menelurkan album &quot;wajib&quot; yaitu &quot;Operation:Mindcrime&quot;, Crimson Glory juga merilis album yang menjadi legenda dunia heavy metal: &quot;Transcendence&quot;. Inilah masa puncak seorang Midnight, yang mampu begitu ganas menyanyikan lagu bertempo cepat seperti &quot;Red Sharks&quot; dan &quot;Eternal World&quot;, tetapi juga dapat berubah sentimentil dan begitu merdu saat menyanyikan ballad &quot;Lonely&quot; atau &quot;Painted Skies&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, corak musik Crimson Glory berubah total menjadi eksperimental pada album &quot;Strange and Beautiful&quot; (1991), unsur metal nyaris hilang, vokal Midnight tidak terekspos total, walaupun pada album ini terdapat dua lagu ballad yang luar biasa indah, &quot;Song for Angels&quot; dan &quot;Deep Inside Your Heart&quot;. Setelah album ini, Midnight hilang dari hingar bingar musik metal dan menyendiri selama nyaris satu dekade. Hmm.. kalau sudah gini jadi agak mirip dengan cerita Michael Kiske. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reuni Midnight dengan Crimson Glory pada tahun 2005 - 2007, juga tidak menghasilkan album yang dapat mengulang kejayaan mereka, sampai Midnight menghembuskan nafas terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada era yang hilang dan tidak pernah kembali, tetapi suara emas Midnight akan tetap hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;So hard all alone&lt;br /&gt;Fighting thu the pain&lt;br /&gt;Someday you`ll stand up&lt;br /&gt;Strong and unafraid&lt;br /&gt;And then you`ll see the sun&lt;br /&gt;Right behind the rain&lt;br /&gt;Spread your wings...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Crimson Glory - Song for Angels)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/midnight.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Dream Theater - Black Clouds & Silver Linings (2009) </title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=33</link>
		<author>Joko Nurjadi</author>
		<pubDate>14 July 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Selalu tidak mudah mendengarkan musik Dream Theater (DT), tetapi ada saja (dan banyak) yang tidak sabar ingin mendengarkan album terbarunya &quot;Black Clouds &amp;amp; Silver Linings&quot;. Mungkin beberapa alasannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ingin mendengarkan nada-nada akrobatik khas progressive metal.&lt;br /&gt;* Sudah cinta mati dengan DT sejak album &quot;Images and Words&quot;.&lt;br /&gt;* Berharap ada ballad.&lt;br /&gt;* Salah beli, kirain musik jenis J-Rock gara-gara ngeliat poster John Myung.&lt;br /&gt;* Kebanyakan baca reviewmusik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasannya, bagi kamu yang telah mendengar &quot;Black Clouds &amp;amp; Silver Linings&quot;, maka telah mendengar salah satu album terbaik di tahun 2009&amp;nbsp; (menurut saya). Walaupun hanya terdiri dari 6 lagu, tetapi akan memuaskan rata-rata fans DT, pemuja progressive metal, dan pencari musik indah pengisi jiwa (biarpun jiwa-jiwa tertentu saja).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. A Nightmare to Remember (3/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu pembuka yang dipenuhi dengan gebrakan double pedal penuh energi dari Mike Portnoy, sampai sesekali menyentuh ranah thrash/speed metal. Walaupun buat saya bukan lagu yang memorable, cenderung membosankan dan terlalu panjang. Bahkan duel gitar/keyboard John Petrucci/Jordan Rudess ikut membosankan (kecuali bagian arpeggio). Setidaknya kalau kesan yang ingin ditampilkan adalah &quot;nightmare&quot; (sesuai judul), maka mood dan dark style lagu ini cukup mewakili kesan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. A Rite of Passage (5/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang sangat pas (sesuai undang-undang progressive), dilihat dari durasi (8:35) dan komposisi musik. Chorusnya keren, iringan melodi John Petrucci terdengar luar biasa nikmat, dan seperti corak progressive yang liar tapi teratur (bingung kan), musiknya bisa tau-tau keluar rel, dan entah bagaimana tiba-tiba sudah masuk ke jalur yang bener lagi. Well done!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Wither (5/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ballad is never die. Hitung berapa banyak kelompok band (walau sesangar apapun) yang memiliki power ballad andalan, tidak terkecuali Dream Theater dengan nomor-nomor balladnya, misalnya &quot;Another Day&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada album ini, &quot;Wither&quot; adalah track ballad yang ditawarkan, satu-satunya lagu yang nggak progresif, dengarkan dan nikmati pada moment yang spesial, dan dijamin kamu akan mengenang lagu ini seumur hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan solo gitar yang begitu sederhana (untuk kelas Petrucci), dapat menggugah emosi yang begitu dalam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. The Shattered Fortress (4/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa sejak kapan DT mulai sering bernyanyi bersahut-sahutan (LaBrie dan Portnoy?), yang jelas resep itu kurang masuk di telinga saya (beda dengan sahut-sahutan versi Manowar), tapi boleh lah untuk menghadirkan kesan sangar. &quot;The Shattered Fortress&quot; tampaknya memang berusaha menampilkan kembali mood yang gelap tetapi dengan tempo yang variatif, dan baru di lagu ini James LaBrie menunjukkan powernya. Beberapa nada dalam lagu ini sengaja diambil dari lagu-lagu DT pada album yang berbeda, yang ternyata tergabung dalam rangkaian yang disebut The Twelve-step Suite (sumber: &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Twelve-step_Suite&quot;&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Twelve-step_Suite&lt;/a&gt;). Ada-ada saja idenya Mr. Portnoy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. The Best of Times (4/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gaya bermusik, &quot;The Best of Times&quot; mirip dengan gaya Rush, tentunya dengan versi yang lebih galak, dan telinga saya begitu berbahagia mendengar arpeggio-arpeggio indah dan cepat (hey Petrucci, you rock!). Tetapi ngomong-ngomong, saya mulai merasa vokal James LaBrie tidak seperkasa dulu. Nggak berarti vokal LaBrie di album ini jelek, tetapi jelas tidak menunjukkan power seorang vokalis yang mampu menyanyikan seluruh lagu di album &quot;The Number of the Beast&quot; dari Iron Maiden secara live!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. The Count of Tuscany (4/5)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu sepanjang sekitar 19 menit, dibuka dengan solo gitar melodius dari Petrucci, lagu mulai mengalir, dan saatnya personil-personil DT unjuk gigi dengan memamerkan solo dan kolaborasi instrumen tingkat tinggi, rumit sekaligus nikmat. Seluruh instrumen memang asyik berakrobatik, tetapi lagi-lagi susah menghapus kenangan bahwa vokal James LaBrie pun pernah begitu saktinya berakrobatik, bukan sekedar menyanyikan nada-nada yang terhitung standar. Setidaknya, barang siapa mampu spin &quot;Black Clouds &amp;amp; Silver Linings&quot; kurang lebih 3 s/d 5 kali, mungkin baru dapat memahami asyiknya album ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://www.reviewmusik.com&quot;&gt;http://www.reviewmusik.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
	</item>

	<item>
		<title> album:Stratovarius - Polaris (2009) Stratovarius tanpa Timo Tolkki? No problem.</title>
		<link>http://reviewmusik.com/album_detail.php?id=32</link>
		<author>gawibowo</author>
		<pubDate>28 June 2009</pubDate>
		<description>&lt;p&gt;Di tahun 2009 ini, salah satu band power metal legendaris asal Finlandia yaitu Stratovarius kembali mengeluarkan album baru, setelah ditinggal oleh gitaris mereka yaitu Timo Tolkki yang beberapa saat lalu membentuk band baru Revolution Renaissance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timo Tolkki memang bukan pendiri Stratovarius, namun memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk warna musik band ini. Dialah yang telah memimpin band ini dan menulis hampir semua (95%) lagu-lagu Stratovarius sejak album pertama mereka tahun 1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ditinggal oleh Tolkki, namun ternyata Stratovarius tidak merubah arah musik mereka, dan yang paling penting adalah: tidak kehilangan ide untuk membuat lagu! Justru sekarang seluruh anggota band ini (kecuali J&amp;ouml;rg Michael) berbagi ide untuk menulis lagu, dan hasilnya: lagu-lagu di album Polaris ini masih terasa Stratovarius banget. Tidak kehilangan unsur-unsur melodic/speed/neo-classical power metal yang merupakan ciri khas mereka selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang gitaris pengganti Tolkki yaitu Matias Kupiainen, merupakan anggota terbaru band ini. Matias memang merupakan nama baru di dunia musik metal, namun memiliki skill gitar yang tidak diragukan lagi. Terlihat dari permainannya yang sangat baik dengan solo-solo maut berhasil dijalaninya dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, porsi keyboard di album ini rupanya lebih dominan dari album-album sebelumnya, di mana Jens Johansson dengan solo-solo gilanya mendapatkan porsi lebih banyak daripada album-album sebelumnya. Duel-duel antara keyboard dan gitar pun masih terasa mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vokal dalam album ini masih dihandle dengan mantap oleh Timo Kotipelto dengan suara khasnya yang &lt;em&gt;clean&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;powerful&lt;/em&gt;. Tony Kakko (Sonata Arctica) juga ikut menyumbangkan suaranya pada backing vocal, namun suara Tony di sini hampir tidak terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Album ini dibuka dengan lagu &lt;strong&gt;Deep Unknown&lt;/strong&gt;, yang juga merupakan single. Lagu pembuka ini memiliki tempo yang tidak terlalu cepat. Sedikit mirip dengan lagu Hunting High And Low, namun dengan duel antara gitar dan keyboard yang mantap. Video klipnya bisa dilihat &lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=FnkpjO3ORnw&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagu super cepat khas Stratovarius di album ini yaitu &lt;strong&gt;Blind&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Forever Is Today&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Higher We Go&lt;/strong&gt;. Dengan Forever is Today menurut saya merupakan lagu terbaik di album ini. Mengingatkan pada lagu-lagu di masa kejayaan mereka (album Episode &amp;amp; Visions).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui lagu &lt;strong&gt;King Of Nothing&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Emancipation Suite&lt;/strong&gt; (yang dibagi menjadi 2 part), Stratovarius serasa kembali ke era Elements. Merupakan lagu yang slow namun sangat epic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan &lt;strong&gt;Winter Skies&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;Somehow Precious&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;When Mountains Fall&lt;/strong&gt; merupakan lagu ballad yang sangat indah. Terutama When Mountains Fall yang mengingatkan pada lagu ballad dari album Episode yaitu &quot;Forever&quot;. Sama-sama dalam format akustik dan diiringi biola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan pula solo gitar dari Matias yang sangat indah dan emosional di lagu-lagu slow yaitu Winter Skies dan Emancipation Suite I. Anehnya solo gitar pada Emancipation justru mengingatkan pada permainan gitar Timo Tolkki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan album Age Of Aquarius dari Revolution Renaissance (band Timo Tolkki), maka album Polaris ini menurut saya jauh lebih baik. Salut untuk Jens, Timo K, Lauri, Matias dan J&amp;ouml;rg yang mampu meneruskan Stratovarius dalam format baru. Sungguh sebuah album yang mantab Stratovarius. Lanjutkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timo Kotipelto &amp;ndash; Vocals&lt;br /&gt;Jens Johansson &amp;ndash; Keyboards&lt;br /&gt;J&amp;ouml;rg Michael &amp;ndash; Drums&lt;br /&gt;Lauri Porra &amp;ndash; Bass guitar&lt;br /&gt;Matias Kupiainen &amp;ndash; Guitars&lt;br /&gt;Tony Kakko - Backing vocals&lt;/p&gt;</description>
	</item>

</channel></rss>