Hari ini saya membaca komentar-komentar negatif mengenai Kangen Band, memang bukan berita baru, tetapi sampai saat ini pun di forum-forum masih banyak sekali yang mencela Kangen Band. Saya pribadi sebagai penikmat musik, tidak ikut mencela Kangen Band karena bagaimanapun juga beberapa lagunya memang enak di telinga, dan dapat dinikmati sebagai easy listening.
Saya juga membaca latar belakang personil Kangen Band yang dari kuli, penjual es, dan pekerjaan yang dianggap kelas bawah. Saya pribadi tidak menganggap hal itu sebagai excuse untuk membela Kangen Band, toh semua profesi yang halal itu sangat terhormat.
Tetapi mau tidak mau saya jadi ingat Poison, grup Amerika yang pernah tenar pada era glam metal, mungkin itulah Kangen Band versi Amerika. Biarpun personilnya pernah bekerja sebagai supir dan salesman, tapi band inilah yang pernah menolak Slash yang mengikuti audisi saat Poison mencari gitaris, walaupun alasannya lebih ke penampilan Slash yang kurang glamor.
Poison juga yang pernah melahirkan hit-hit Talk Dirty To Me, Every Rose Has Its Thorn, Unskinny Bop, Something to Believe In, dan seterusnya. Kualitas musikalitas mereka juga tidak lepas dari cercaan, dan mirip juga dengan Kangen Band, sang gitaris adalah orang yang sering dianggap paling berkualitas di dalam band, salah satu riff keren C.C. DeVille (gitaris Poison) dapat didengar pada lagu Unskinny Bop.
Poison juga, yang ikut berperan membesarkan seorang dewa gitar bernama Richie Kotzen yang bergabung dengan Poison pada tahun 1991 (sekedar informasi, Kotzen kemudian juga sempat menjadi gitaris Mr. Big).
Kesimpulannya, setiap band pasti ada saja pihak yang mencerca, bahkan band yang personilnya setengah dewa semua model Dream Theater sekalipun. Buat saya pribadi, jiwa musik beda dengan jiwa dagang, kalau jiwa dagang customer is the king, kalau jiwa musik the king is myself, mainkan musik yang kita mau, bukan musik yang orang lain inginkan, karena kita akan mengingkari jiwa musik kita sendiri jika mengikuti selera pasar (Setujuuu!!! Kata Yngwie Malmsteen), dan ini tidak berarti katak dalam tempurung, karena musik itu sendiri borderless. Kalau masih sampai kuping, bolehlah musik itu dibedakan jadi musik rock, pop, keroncong, dangdut, tapi kalau sudah sampai hati, tidak ada lagi kategori dan label itu.
|
|