Mendengarkan musik metal bisa berakibat baik dan buruk. Baik jika didengarkan pada saat pindah rumah (karena dapat menambah 68% energi buat ngangkat barang), dan buruk jika didengarkan di kapal laut, bukan karena tidak enak mendengarkan metal saat mabuk laut, tetapi karena beresiko dilempar ke laut oleh orang sebelah yang kebetulan bertubuh besar, penggemar Celine Dion pula.
Tetapi jangan kuatir, karena ada album "Salt" dari Wuthering Heights, yang dapat membawa imajinasi ke tengah samudra tanpa perlu naik kapal, berpetualang dari daratan satu ke daratan lainnya, dengan ramuan musik unik khas Wuthering Heights: Symphonic Speed Power Folk Progressive Metal, begitu kira-kira unsur dominannya. Band lain yang dapat menandingi Wuthering Heights (dari segi kemiripan genre, kualitas, dan... banyaknya personil) adalah Elvenking.
Unsur power metal di album ini sangat kuat, tetapi tidak terjebak dengan pola standar tiga jurus: fast palm mute, blast beats, dan Kiske wannabe. Jurus-jurus Wuthering Heights jauh lebih banyak: permainan tempo yang tidak memberi kita kesempatan untuk merasa bosan, variasi melodi gitar neoclassic plus ramuan eksotik ala Marty Friedman, komposisi rumit dan aransemen yang kaya, dan beruntunglah mereka memiliki vokalis Nils Patrik Johansson, walaupun bukan tipe bening mulus tinggi (ini dalam konteks vokal, bukan yang lain), tapi vokal Nils yang agresif mampu bergerilya menampilkan berbagai emosi, singkat kata: istilah "monoton" tidak ada dalam kamus Wuthering Heights!
Track list album ini adalah:
"Away"
Memulai perjalanan menikmati Salt, track pertama "Away" menggebrak dengan megah, walau hanya berdurasi sekitar satu setengah menit, riff dan melodinya mengingatkan dengan style Helloween era Kai Hansen.
"The Desperate Poet"
Mendengarkan track ini, serasa enggan melewatkan setiap detik nada yang keluar, begitu indahnya, dan benar-benar menggambarkan suasana... stress! (namanya juga desperate poet), setiap instrumen dimainkan dengan brilian, sungguh mengagumkan mendengarkan bagaimana Wuthering Heights memainkan setiap variasi nada dan tempo, kita tidak akan menemukan struktur lagu standar: verse - chorus - verse - chorus - solo - bridge - chorus diakhiri dengan lengkingan vokal. Kita hanya merasakan emosi lagu yang kadang berombak dan kadang tenang, tidak perduli tujuan, nikmati saja perjalanannya!
"The Mad Sailor"
Setelah sekian lama, akhirnya Wuthering Heights membuat sebuah lagu yang menurut saya berpotensi menjadi big hit secara komersial, atau menjadi lagu wajib di live concert. Tanpa meninggalkan kompleksitas, lagu ini pasti mampu membuat pendengarnya ber sing-along pada chorus yang super catchy:
I will dance on the gunwale, as the ship`s going down I will write no solemn epitaphs, for a world that`s gone insane When there is no tomorrow, even then will I know That as long as the minstrels are playing, all is not in vain
Unsur folk cukup kental pada lagu ini, solo gitar yang eksotik tidak kalah dengan yang biasa dimainkan Marty Friedman. Ngomong-ngomong, di sekitar akhir lagu pada bagian chorus, vokal Nils sangat mirip dengan Kai Hansen saat bernyanyi dengan nada rendah.
"The Last Tribe (Mother Earth)"
Sebuah epic megah berdurasi nyaris 8 menit. Banyaknya kombinasi instrumen keyboard dan akustik (dan bunyi-bunyian lain) membuat aransemennya semakin kaya, walau tetap unsur power metal sangat dominan pada lagu ini.
"Tears"
Ok, dari judulnya mungkin mengarah pada ballad, dan liriknya memang sangat sentimentil. Simak potongan lirik: "tears of anger make a man of me" atau "tears of sorrow make a man of me". Tapi ternyata "Tears" bukan lagu slow mellow, walaupun pada beberapa bagian mereka menurunkan tempo, secara keseluruhan track ini tetap sebuah lagu power metal yang penuh greget.
"Weather The Storm"
Salah satu ciri Wuthering Heights adalah melodi/harmoni gitar yang kuat, tanpa terkesan mendominasi. Seperti juga lagu ini, diselipi melodi-melodi indah, yang kalau boleh dibandingkan, sama kerennya dengan style melodi gitar Jon Drenning di Crimson Glory. Kabarnya, Crimson Glory menciptakan konsep musiknya selama nyaris 4 tahun, entah berapa lama Wuthering Heights meramu konsep musiknya sampai seunik ini.
"The Field"
Tidak lengkap rasanya metal tanpa gitar solo, duel gitar pada tengah lagu "The Field" merupakan salah satu pertunjukan kesaktian gitaris Erik Ravn/Martin Arendal, satu hal yang berbeda dengan kebanyakan style gitaris lain saat solo gitar, Wuthering Heights sangat memperhatikan harmonisasi, setiap nada yang keluar dari petikannya tidak pernah terkesan asal ngacir untuk sekedar memamerkan speed/teknik.
"Water of Life"
Satu-satunya lagu yang "ringan", folk/country dengan sentuhan akustik dan alat musik tiup (flute?), dan vokal santai Nils. Track ini terkesan hanya intermezzo dua menit sebelum masuk ke track terakhir.
"Lost at Sea"
Lagu terpanjang yang pernah dibuat oleh Wuthering Heights, dengan durasi sekitar 16:30 menit. Riff yang kompleks (tetapi tetap asyik) kembali terdengar, sebuah epic dengan komposisi musik yang bergerak dinamis ala progressive metal. Walaupun menurut saya bukan lagu terbaik dari album ini, tetapi tidak mengecewakan sebagai track penutup. Range vokal Nils yang luas dan kemampuannya bereksplorasi mengingatkan saya pada Bruce Dickinson. Dengar saja vokal operaticnya pada ending lagu: "all is now dark... I am Lost at Seaaaaaaa".
For my taste, this is one of best metal albums in 2010!
Line up:
Erik Ravn : guitars, keyboards, bass, mandolin, percussion, backing vocals, narration Nils Patrik Johansson : all lead vocals, backing vocals Morten Gade Sørensen : drums, percussion Andreas Lindahl : keyboards Martin Arendal : guitars Teddy "Dr.Müller" Möller : bass, guitars, backing vocals
Guest musicians: Tommy Hansen - hammond organ, accordion
|
|