Selalu tidak mudah mendengarkan musik Dream Theater (DT), tetapi ada saja (dan banyak) yang tidak sabar ingin mendengarkan album terbarunya "Black Clouds & Silver Linings". Mungkin beberapa alasannya:
* Ingin mendengarkan nada-nada akrobatik khas progressive metal. * Sudah cinta mati dengan DT sejak album "Images and Words". * Berharap ada ballad. * Salah beli, kirain musik jenis J-Rock gara-gara ngeliat poster John Myung. * Kebanyakan baca reviewmusik.com.
Apapun alasannya, bagi kamu yang telah mendengar "Black Clouds & Silver Linings", maka telah mendengar salah satu album terbaik di tahun 2009 (menurut saya). Walaupun hanya terdiri dari 6 lagu, tetapi akan memuaskan rata-rata fans DT, pemuja progressive metal, dan pencari musik indah pengisi jiwa (biarpun jiwa-jiwa tertentu saja).
1. A Nightmare to Remember (3/5)
Lagu pembuka yang dipenuhi dengan gebrakan double pedal penuh energi dari Mike Portnoy, sampai sesekali menyentuh ranah thrash/speed metal. Walaupun buat saya bukan lagu yang memorable, cenderung membosankan dan terlalu panjang. Bahkan duel gitar/keyboard John Petrucci/Jordan Rudess ikut membosankan (kecuali bagian arpeggio). Setidaknya kalau kesan yang ingin ditampilkan adalah "nightmare" (sesuai judul), maka mood dan dark style lagu ini cukup mewakili kesan itu.
2. A Rite of Passage (5/5)
Lagu yang sangat pas (sesuai undang-undang progressive), dilihat dari durasi (8:35) dan komposisi musik. Chorusnya keren, iringan melodi John Petrucci terdengar luar biasa nikmat, dan seperti corak progressive yang liar tapi teratur (bingung kan), musiknya bisa tau-tau keluar rel, dan entah bagaimana tiba-tiba sudah masuk ke jalur yang bener lagi. Well done!
3. Wither (5/5)
Ballad is never die. Hitung berapa banyak kelompok band (walau sesangar apapun) yang memiliki power ballad andalan, tidak terkecuali Dream Theater dengan nomor-nomor balladnya, misalnya "Another Day".
Pada album ini, "Wither" adalah track ballad yang ditawarkan, satu-satunya lagu yang nggak progresif, dengarkan dan nikmati pada moment yang spesial, dan dijamin kamu akan mengenang lagu ini seumur hidup.
Bahkan solo gitar yang begitu sederhana (untuk kelas Petrucci), dapat menggugah emosi yang begitu dalam!
4. The Shattered Fortress (4/5)
Saya lupa sejak kapan DT mulai sering bernyanyi bersahut-sahutan (LaBrie dan Portnoy?), yang jelas resep itu kurang masuk di telinga saya (beda dengan sahut-sahutan versi Manowar), tapi boleh lah untuk menghadirkan kesan sangar. "The Shattered Fortress" tampaknya memang berusaha menampilkan kembali mood yang gelap tetapi dengan tempo yang variatif, dan baru di lagu ini James LaBrie menunjukkan powernya. Beberapa nada dalam lagu ini sengaja diambil dari lagu-lagu DT pada album yang berbeda, yang ternyata tergabung dalam rangkaian yang disebut The Twelve-step Suite (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Twelve-step_Suite). Ada-ada saja idenya Mr. Portnoy!
5. The Best of Times (4/5)
Dari gaya bermusik, "The Best of Times" mirip dengan gaya Rush, tentunya dengan versi yang lebih galak, dan telinga saya begitu berbahagia mendengar arpeggio-arpeggio indah dan cepat (hey Petrucci, you rock!). Tetapi ngomong-ngomong, saya mulai merasa vokal James LaBrie tidak seperkasa dulu. Nggak berarti vokal LaBrie di album ini jelek, tetapi jelas tidak menunjukkan power seorang vokalis yang mampu menyanyikan seluruh lagu di album "The Number of the Beast" dari Iron Maiden secara live!
6. The Count of Tuscany (4/5)
Lagu sepanjang sekitar 19 menit, dibuka dengan solo gitar melodius dari Petrucci, lagu mulai mengalir, dan saatnya personil-personil DT unjuk gigi dengan memamerkan solo dan kolaborasi instrumen tingkat tinggi, rumit sekaligus nikmat. Seluruh instrumen memang asyik berakrobatik, tetapi lagi-lagi susah menghapus kenangan bahwa vokal James LaBrie pun pernah begitu saktinya berakrobatik, bukan sekedar menyanyikan nada-nada yang terhitung standar. Setidaknya, barang siapa mampu spin "Black Clouds & Silver Linings" kurang lebih 3 s/d 5 kali, mungkin baru dapat memahami asyiknya album ini.
http://www.reviewmusik.com
|
|