Kalau Krakatau di Tangan Yngwie
Ini merupakan classic review, atau bahasa Indonesianya: review album jadul yang legendaris. Saat membaca review ini, Yngwie akan mengatakan “ini baru masterpiece”, Joe Lynn Turner akan mengatakan “kenapa gue selalu dijajah gitaris”, dan Ritchie Blackmore akan berkomentar “tongkrongan gue ditiru, ex-vokalis gue direkrut, besok-besok die pasti naksir bini gue” oops bohong deh... takutnya ntar reviewmusik.com bisa berubah nama jadi gosipmusik.com.
Baiklah, saya akan netral dengan memperkenalkan siapa Yngwie terlebih dahulu, karena siapa tahu ada yang belum kenal, hahaha... sebenernya sih banyakan yang nggak kenal, coba survey satu kelurahan, tanya sama kakek-nenek-ibu-bapak-anak-bayi, maka akan susah mendapatkan orang yang kenal Yngwie, eh tapi tunggu dulu.. di sana duduk om-om gondrong bermain gitar akustik, dengan kaos hitam lambang Iron Maiden, bukan P.O.D atau A7X. Wah pasti anak 80-an nih! Samperin ah... berhubung reviewmusik.com terkenal suka interview orang.
reviewmusik: om.. om.. maaf numpang nanya. om gondrong: ya? (sambil memainkan More Than Words-nya Extreme, yang mirip sih cuma bagian ngetuk body gitarnya)
reviewmusik: om tau Yngwie Malmsteen? om gondrong: tau dong mas! Yang lagunya ini kan... (memainkan petikan gitar Save Our Love, dari album Eclipse).. ini judulnya “sep or lop” mas.
reviewmusik: wah benar sekali, om! Ya..ya..apa yang paling berkesan dari Yngwie? om gondrong: saya pernah 2 hari 3 malam nggak tidur, ngulikin (lagu) Yngwie.
reviewmusik: akhirnya gimana, om? om gondrong: nggak sia-sia, saya kuasai seluruh lagu itu.
reviewmusik: hebat om! Lagu apa? Black Star? Far Beyond The Sun? Rising Force? om gondrong: bukan, memories dari album odiseee....
Yngwie Malmsteen adalah seorang maestro gitaris aliran metal neoklasik yang terkenal dengan permainannya yang super cepat, akurat, dan berulang-ulang. Ya, sekian perkenalannya.
Odyssey, merupakan album yang sangat spesial, hadirnya vokalis Joe Lynn Turner di sini bukan berita gembira buat sebagian fans Yngwie, pasalnya power vokal Joe nggak segahar vokalis sebelumnya, Mark Boals ataupun Jeff Scott Soto. Tapi kenyataannya, Joe mampu menjalankan tugas dengan baik dan turut andil membuat album ini sukses secara komersial.
Bagi yang pernah mendengar album Yngwie sebelumnya (atau sesudahnya), akan kaget saat mendengar album ini karena sound gitar Yngwie yang berbeda, terutama terdengar saat melodi, yang di telinga saya menjadi lebih cempreng dari sound Yngwie biasanya, hasilnya adalah nuansa yang mirip gesekan biola (nuansanya aja, bukan suaranya, ntar saya dituduh nggak bisa bedain biola sama gitar lagi), untuk lebih jelasnya coba dengar sendiri deh (enak bikin review begini, buntut-buntutnya: coba dengar sendiri deh).
Album dibuka dengan lagu “Rising Force”, yang sangat terkenal di kancah permetalan, barang siapa yang mampu memainkan solo gitar pada lagu ini, minimal akan mendapatkan gelar yngwier atau yngwieholic, tapi masih cukup jauh untuk menjadi yngwie addict. Walaupun ini lagu pembuka yang sangar, vokal Joe rupanya belum panas dan masih beroperasi di wilayah aman. Tak dapat dilupakan peran keyboardist Jens Johannson, salah satu dari sedikit manusia yang berani berduel dengan Yngwie (walaupun pake keyboard).
Selanjutnya “Hold On” bergulir dengan nuansa hardrock yang kental, Joe nampak bahagia bernyanyi pada lagu ini, “gue banget nih” pikir Joe. Dilanjutkan dengan big hit “Heaven Tonight” yang juga beraliran melodic hardrock. Biarpun big hit, tapi buat saya chorusnya agak membosankan.
Selanjutnya, ballad berjudul “Dreaming (Tell Me)” berkumandang, ini lagu ballad (dengan vokal) pertama yang ditampilkan oleh Yngwie, sebelumnya Yngwie belum menyadari power ballad, the power of ballad, the power of power ballad...ah bingung, pokoknya rock ballad yang berpotensi diputer di radio atau MTV. By the way, mungkin ada yang menganggap solo gitar Yngwie di sini awur-awuran, tapi bagi saya solo gitar di sini sangat emosional, dan lebih emosional lagi pada saat dibawakan oleh Yngwie secara live pada album “Live In Leningrad”.
Kemudian berturut-turut “Bite the Bullet” (instrumental) dan “Riot in the Dungeons” menggempur dalam tempo cepat dengan komposisi yang lincah dan indah.
Bentar.. balik kaset dulu ke side B... (soalnya di kasetnya dulu, side A berenti sampai sini).
“Deja Vu” juga merupakan lagu Yngwie yang enak di telinga, sebenarnya sampai album ini Yngwie masih sangat kreatif dan belum banyak lagu-lagunya yang membuat kita deja vu, dibuktikan dengan “Crystal Ball”, dengarkan petikan Yngwie pada Intro yang sangat inspiratif.
Warna blues yang kental ditawarkan pada “Now is the Time”, lagu ringan (walaupun intronya asli kesannya sangar), berikutnya adalah lagu keren berjudul “Faster Than The Speed of Light” yang tumben-tumbennya menampilkan lengkingan tinggi Joe. Sepertinya ini benar-benar dipaksa Yngwie deh, jarang-jarang Joe (dan rata-rata vokalis hardrock) ampe kayak gitu.
Berikutnya, “Krakatau” (instrumental) yang memamerkan bahwa Yngwie nggak cuma piawai di gitar, tetapi juga di bass. Nuansa lagu ini dark, dan riffnya termasuk ngetop di kalangan gitaris, juga kembali menampilkan duel Jens Johansson dan Yngwie.
Album ini ditutup dengan “Memories” (instrumental), kata orang lagu Yngwie gampang dikenalin, tapi pasti bukan lagu yang ini! Coba dengar sendiri deh...
Track List:
01. Rising Force 02. Hold On 03. Heaven Tonight 04. Dreaming (Tell Me) 05. Bite The Bullet 06. Riot in the Dungeons 07. Deja Vu 08. Now is the Time 09. Faster Than the Speed of Light 10. Krakatau 11. Memories
Personil:
Yngwie J. Malmsteen: all guitars, bass, background vocals
Joe Lynn Turner: lead vocals
Jens Johansson: keyboards
Bob Daisley: bass on "Rising Force", "Hold On", "Crystall Ball", "Now is the Time"
Anders Johansson: drums
|
|