Album yang disukai cowok maupun cewek
Kalau kamu melihat seorang pria berambut gondrong dengan lengan penuh tattoo sedang duduk menangis dengan earphone menempel pada telinganya, kamu pantas merasa curiga bahwa dia sedang mendengarkan salah satu lagu ballad dari kelompok legendaris asal Jepang, X Japan.
X Japan bagaikan tokoh pahlawan yang gugur dalam medan perang (atau bunuh diri dalam medan perang?), walaupun sudah membubarkan diri, tetapi para metal mania (dan mungkin juga para pop, ballad, dan J-Rock mania) seantero jagad tetap mengenang lagu-lagunya yang fenomenal. "Dahlia" merupakan album terakhir X Japan yang dirilis pada tahun 1996 (walaupun sempat merilis lagu "Last Song" pada tahun 1998 sebagai tanda jadi bubaran), sebuah album istimewa dengan 4 ballad yang pasti juga digemari cewek-cewek. Yoshiki (drums/piano) merupakan otak dari komposisi musik X Japan, selain mendapat tugas tambahan menjadi cover album ini. Musik X Japan merupakan cikal bakal genre J-Rock, dilihat dari sisi ini X Japan lebih berjasa dan lebih original ketimbang kelompok legendaris Jepang lainnya, Loudness.
"Dahlia": merupakan lagu pembuka yang menguraikan kemampuan X Japan, komposisi musik yang kompleks, agresif sekaligus melodic, teknik permainan instrumen tingkat tinggi, hingga efek-efek bunyi latar dan vokalis bilingual (bernyanyi dengan bahasa Jepang dan Inggris), membentuk sebuah lagu megah yang sudah sepatutnya mendapat pengakuan internasional.
"Scars": Lagu yang punya beat cukup asyik, gebukan drums Yoshiki yang dinamis dan penuh energi memang merupakan salah satu ciri lagu-lagu keras X Japan.
"Longing (Togireta Melody)": salah satu lagu ballad X Japan yang populer dengan chorus yang mudah akrab dengan telinga, vokalis Toshi menjalankan tugas dengan keren dan sempurna dengan latar dentingan piano yang sentimentil, solo gitar lagu ini juga memperlihatkan sisi melankolis gitaris utama X Japan, Hide, semasa hidupnya (Hide mengambil keputusan penting yang penuh resiko sekaligus menghilangkan semua resiko, yaitu bunuh diri, kalau tidak salah pada tahun 1997).
"Rusty Nail": Kalau Van Halen punya "Jump", Europe punya "The Final Countdown", Guns `N Roses punya "Sweet Child O` Mine", maka X Japan punya "Rusty Nail"! Mungkin salah satu deskripsi yang tepat adalah lagu catchy habis yang punya kemungkinan lebih tenar daripada nama bandnya sendiri.
"White Poem I": Lagu yang nyaris instrumental dan sangat experimental dari Yoshiki, lebih baik no comment sebab saya nggak nangkep maksud lagu ini, tell me why ... tell me why ...
"Crucify My Love": Ballad bernuansa gelap, sentimentil, sekaligus manis. Hanya terdiri dari vokal Toshi yang lembut, piano dan choir keyboard, dan coba temukan sedikit efek suara kicauan burung pada akhir lagu.
"Tears": What a perfect song! Mungkin ini lagu ballad X Japan yang paling mampu menguras air mata dan salah satu lagu ballad terbaik sepanjang masa (nggak berlebihan lho), tone suara Toshi yang merdu dan penuh power, aransemen klasik yang memikat, dan lirik yang sangat meaningful dan menyentuh menjadi kekuatan utama lagu ini. Lagu ini dibuat oleh Yoshiki untuk mengenang ayahnya yang bunuh diri, Yoshiki ikut mengisi suara pada akhir lagu dengan berbisik "... I will try to live .. try to live .. with love, with dreams, and forever .. with tears"
"Wriggle": Instrumental dan intro pembuka untuk lagu selanjutnya, mirip-mirip warna Guns `N Roses.
"Drain": X Japan tampil dengan gaya yang lebih modern, nyaris alternatif mirip Nirvana atau Linkin` Park.
"Forever Love": Kembali sebuah lagu ballad, juga salah satu lagu X Japan yang paling dikenal. Lagu ini menonjolkan suara instrumen paling indah yang dimiliki X Japan, yaitu suara Toshi, sekaligus menjadi penutup album klasik ini.
|